Pada dunia kontemporer saat
ini, Tiongkok merupakan salah satu negara yang menjadi ancaman bagi hegemoni
Amerika Serikat. Walaupun PDB Tiongkok belum bisa mengalahkan PDB Amerika Serikat,
namun Amerika Serikat cukup khawatir dengan pertumbuhan ekonomi
Tiongkok yang besar setiap tahunnya. Berdasarkan data dari World Bank tahun
2010, PDB Tiongkok adalah sebesar USD 5,9 triliun dan PDB Amerika Serikat
sebesar USD 14,9 triliun. Namun rata-rata pertumbuhan ekonomi Tiongkok setiap
tahunnya adalah sebesar 10,73%, sedangkan Amerika Serikat hanya sebesar 1,67%. Sehingga
dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok hampir sepuluh kali lipat dari pertumbuhan ekonomi
Amerika Serikat. Bahkan diprediksi, dalam satu dasawarsa ke depan PDB Tiongkok dapat mengalahkan PDB Amerika Serikat. Sedangkan dalam sektor militer, walaupun saat ini
Tiongkok masih menjadi negara dengan kemampuan militer terbesar ketiga setelah
Amerika Serikat dan Rusia, namun pada tahun 2034 diprediksi kekuatan militer Tiongkok
akan mengalahkan kekuatan militer Amerika Serikat, dan menjadi negara dengan
kekuatan militer terbesar di dunia. Berdasarkan data-data empiris tersebut maka dapat
dikatakan bahwa istilah "The
Rise of China" yang muncul dalam beberapa tahun belakangan ini merupakan hal yang realistis.
Kebangkitan Tiongkok sebagian besar
disebabkan karena keberhasilan Tiongkok dalam sektor perdagangan. Tiongkok
merupakan negara yang telah menguasai berbagai bentuk perdagangan dunia.
Berbagai
perusahaan Tiongkok, seperti perusahaan otomotif, teknologi komunikasi, pesawat
terbang, persenjataan, nuklir, dan lain sebagainya, telah menyebar secara worldwide dan menjadi tonggak utama dari perekonomian Tiongkok. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang besar
setiap tahunnya dipicu oleh keberhasilan sektor perdagangannya dalam persaingan global. Strategi One China policy juga memberikan sumbangsih yang besar dalam menjadikan produk dagang Tiongkok menjadi penopang utama ekonomi negara. Hal inilah yang kemudian membuat Amerika Serikat menganggap Tiongkok sebagai potensi ancaman baru dari Timur pasca Uni
Soviet.
Dengan besarnya kekuatan
Tiongkok pada perdagangan dunia, maka Tiongkok menjadi negara yang sangat berpengaruh dalam percaturan politik internasional. Tiongkok menjadi negara
yang memiliki posisi tawar (bergaining
power) yang sangat diperhitungkan. Dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki, maka suara
Tiongkok dalam politik dunia menjadi lebih didengar ketimbang negara-negara lainnya. Pada era kontemporer saat ini, dimana dunia mulai
menerapkan sistem liberal yang dipengaruhi oleh Amerika Serikat sebagai
hegemoni tunggal dunia, maka negara yang berkuasa dalam kompetisi global adalah
negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar dan menguasai perdagangan
dunia. Hal ini sesuai dengan pandangan Robert Jackson dan Georg Sorensen, dalam
bukunya yang berjudul “Introduction to
International Relations”, yang mengatakan bahwa perang yang kemungkinan terjadi pada era
kontemporer saat ini bukan lagi perang militer, melainkan perang ekonomi dan
teknologi.[1] Jadi dapat dikatakan bahwa
Tiongkok sebagai negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar, telah menjadi negara yang sangat diperhitungkan dalam politik dunia saat ini.
Dengan besarnya pengaruh
Tiongkok pada tatanan politik global tersebut membuat banyak negara bersedia untuk menjadi koalisi Tiongkok. Hal ini semakin membuat Amerika Serikat khawatir,
dan Amerika Serikat akan melakukan berbagai upaya untuk meredam dominasi Tiongkok tersebut. Salah satunya adalah dengan menyebarkan pengaruhnya ke Asia Tenggara melalui pemberian bantuan keuangan dan mendirikan pangkalan militer. Pangkalan
militer Amerika Serikat di Darwin, bagian utara Australia, merupakan salah satu upaya Amerika Serikat untuk mengantisipasi ancaman dari Tiongkok di Asia.
Terdapat tiga syarat utama bagi
negara untuk menjadi superpower.
Pertama, negara tersebut memiliki kontribusi yang besar bagi perekonomian global. Kedua,
negara tersebut mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Ketiga, negara
tersebut melakukan open trade dan capital flow yang dapat memberikan
dampak besar terhadap negara lain seperti dengan investasi. Walaupun India juga
memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif besar, sehingga muncul juga istilah "The Rise of India", namun India belum
memenuhi ketiga syarat tersebut. Pertama, India belum banyak berkontribusi bagi perekonomian global. India terlalu sering terlibat dalam konflik
perbatasan dengan negara tetangganya. Kedua, pertumbuhan ekonomi India juga
belum mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Tidak seperti Tiongkok yang
banyak menguasai perdagangan internasional, India tidak terlalu banyak terlibat
dalam perdagangan internasional. Ketiga, India juga belum banyak melakukan open trade dan capital flow. Investasi India ke negara lain tidak sebanyak
investasi Tiongkok atau negara-negara Eropa. Hal inilah yang membuat India belum mampu menandingi Tiongkok, dan belum menjadi ancaman serius bagi
hegemoni Amerika Serikat.
Reza Tri Satria
Hubungan Internasional
UIN Syarif Hidayatullah
Hubungan Internasional
UIN Syarif Hidayatullah
[1] Jackson, Robert.
dan Georg Sorensen. 2007. Introduction to
International Relations: Theories and Approaches. Oxford
University Press. United States.
.jpg)



