Sabtu, 04 April 2015

The Effects does China Bring to the Global Political and Economic Order After Its Rise as One of the World’s Largest Economy: Why has not India Posed Similar Challenges?

Pada dunia kontemporer saat ini, Tiongkok merupakan salah satu negara yang menjadi ancaman bagi hegemoni Amerika Serikat. Walaupun PDB Tiongkok belum bisa mengalahkan PDB Amerika Serikat, namun Amerika Serikat cukup khawatir dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang besar setiap tahunnya. Berdasarkan data dari World Bank tahun 2010, PDB Tiongkok adalah sebesar USD 5,9 triliun dan PDB Amerika Serikat sebesar USD 14,9 triliun. Namun rata-rata pertumbuhan ekonomi Tiongkok setiap tahunnya adalah sebesar 10,73%, sedangkan Amerika Serikat hanya sebesar 1,67%. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok hampir sepuluh kali lipat dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Bahkan diprediksi, dalam satu dasawarsa ke depan PDB Tiongkok dapat mengalahkan PDB Amerika Serikat. Sedangkan dalam sektor militer, walaupun saat ini Tiongkok masih menjadi negara dengan kemampuan militer terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan Rusia, namun pada tahun 2034 diprediksi kekuatan militer Tiongkok akan mengalahkan kekuatan militer Amerika Serikat, dan menjadi negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia. Berdasarkan data-data empiris tersebut maka dapat dikatakan bahwa istilah "The Rise of China" yang muncul dalam beberapa tahun belakangan ini merupakan hal yang realistis.

Kebangkitan Tiongkok sebagian besar disebabkan karena keberhasilan Tiongkok dalam sektor perdagangan. Tiongkok merupakan negara yang telah menguasai berbagai bentuk perdagangan dunia. Berbagai perusahaan Tiongkok, seperti perusahaan otomotif, teknologi komunikasi, pesawat terbang, persenjataan, nuklir, dan lain sebagainya, telah menyebar secara worldwide dan menjadi tonggak utama dari perekonomian Tiongkok. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang besar setiap tahunnya dipicu oleh keberhasilan sektor perdagangannya dalam persaingan global. Strategi One China policy juga memberikan sumbangsih yang besar dalam menjadikan produk dagang Tiongkok menjadi penopang utama ekonomi negara. Hal inilah yang kemudian membuat Amerika Serikat menganggap Tiongkok sebagai potensi ancaman baru dari Timur pasca Uni Soviet.

Dengan besarnya kekuatan Tiongkok pada perdagangan dunia, maka Tiongkok menjadi negara yang sangat berpengaruh dalam percaturan politik internasional. Tiongkok menjadi negara yang memiliki posisi tawar (bergaining power) yang sangat diperhitungkan. Dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki, maka suara Tiongkok dalam politik dunia menjadi lebih didengar ketimbang negara-negara lainnya. Pada era kontemporer saat ini, dimana dunia mulai menerapkan sistem liberal yang dipengaruhi oleh Amerika Serikat sebagai hegemoni tunggal dunia, maka negara yang berkuasa dalam kompetisi global adalah negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar dan menguasai perdagangan dunia. Hal ini sesuai dengan pandangan Robert Jackson dan Georg Sorensen, dalam bukunya yang berjudul “Introduction to International Relations”, yang mengatakan bahwa perang yang kemungkinan terjadi pada era kontemporer saat ini bukan lagi perang militer, melainkan perang ekonomi dan teknologi.[1] Jadi dapat dikatakan bahwa Tiongkok sebagai negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar, telah menjadi negara yang sangat diperhitungkan dalam politik dunia saat ini.

Dengan besarnya pengaruh Tiongkok pada tatanan politik global tersebut membuat banyak negara bersedia untuk menjadi koalisi Tiongkok. Hal ini semakin membuat Amerika Serikat khawatir, dan Amerika Serikat akan melakukan berbagai upaya untuk meredam dominasi Tiongkok tersebut. Salah satunya adalah dengan menyebarkan pengaruhnya ke Asia Tenggara melalui pemberian bantuan keuangan dan mendirikan pangkalan militer. Pangkalan militer Amerika Serikat di Darwin, bagian utara Australia, merupakan salah satu upaya Amerika Serikat untuk mengantisipasi ancaman dari Tiongkok di Asia.

Terdapat tiga syarat utama bagi negara untuk menjadi superpower. Pertama, negara tersebut memiliki kontribusi yang besar bagi perekonomian global. Kedua, negara tersebut mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Ketiga, negara tersebut melakukan open trade dan capital flow yang dapat memberikan dampak besar terhadap negara lain seperti dengan investasi. Walaupun India juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif besar, sehingga muncul juga istilah "The Rise of India", namun India belum memenuhi ketiga syarat tersebut. Pertama, India belum banyak berkontribusi bagi perekonomian global. India terlalu sering terlibat dalam konflik perbatasan dengan negara tetangganya. Kedua, pertumbuhan ekonomi India juga belum mampu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Tidak seperti Tiongkok yang banyak menguasai perdagangan internasional, India tidak terlalu banyak terlibat dalam perdagangan internasional. Ketiga, India juga belum banyak melakukan open trade dan capital flow. Investasi India ke negara lain tidak sebanyak investasi Tiongkok atau negara-negara Eropa. Hal inilah yang membuat India belum mampu menandingi Tiongkok, dan belum menjadi ancaman serius bagi hegemoni Amerika Serikat.


Reza Tri Satria
Hubungan Internasional
UIN Syarif Hidayatullah


[1] Jackson, Robert. dan Georg Sorensen. 2007. Introduction to International Relations: Theories and Approaches. Oxford University Press. United States.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar