Jumat, 03 April 2015

Three Perspectives Seeing the Prospect of G8 and G20 Now and in the Future

G8 dan G20 merupakan forum yang membahas, mengkaji dan mendiskusikan seputar masalah perekonomian dunia. Berawal dari krisis minyak tahun 1973, Amerika Serikat mendirikan kelompok bernama Library Group, yang merupakan perkumpulan dari para pejabat keuangan Amerika Serikat, Eropa dan Jepang, untuk membahas upaya-upaya penyelesaian krisis tersebut. Kemudian tahun 1975, Presiden Prancis mengundang enam negara demokasi terbesar dunia dalam pertemuan G6 di Rambouillet, untuk membahas isu krisis ekonomi dunia berupa pencegahan dan penanggulanganannya. Kelompok G6 ini terdiri dari Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat, dan Britania Raya. Kemudian pada pertemuan kedua di Puerto Riko, Kanada bergabung, sehingga terbentuklah G7. Pada tahun 1998, setelah diadakannya pertemuan di Birmingham, Rusia ikut bergabung ke dalam G7 sehingga terbentuklah G8. Sedangkan G20 dibentuk pada tahun 1999 yang disebabkan karena forum-forum sebelumnya dianggap kurang efektif dan tidak melibatkan semua kekuatan ekonomi dunia. G20 merupakan forum sistematis yang menghimpun kekuatan ekonomi negara maju dan negara berkembang. Forum ini membahas isu-isu penting seputar permasalahan ekonomi dunia. G20 terdiri dari 19 negara dengan ekonomi terbaik dan Uni Eropa. Banyak polemik yang muncul terkait dengan kedua forum tersebut. Ada yang pro dengan G8, namun ada pula yang pro dengan G20. Mereka yang pro dengan G8 beranggapan bahwa forum G20 terlalu banyak kepentingan, ditambah lagi dengan keterlibatan Uni Eropa di dalamnya. Sedangkan mereka yang pro dengan G20 beranggapan bahwa permasalahan yang sering dibahas dalam G8 terlalu luas (tentang politik, lingkungan hidup, perubahan cuaca, dan lain sebagainya), tidak fokus pada isu ekonomi sebagaimana tujuan awal forum tersebut. Akan tetapi, kesamaan dari kedua forum ini adalah sama-sama merupakan forum yang bertujuan untuk mengkaji dan mencarikan solusi terhadap berbagai permasalahan ekonomi dunia.

Terdapat tiga perspektif utama yang dapat mendeskripsikan prospek dari G8 dan G20 saat ini dan di masa yang akan datang. Perspektif tersebut yaitu realisme, liberalisme dan konstruktivisme. Menurut realisme, forum kerja sama G8 dan G20 merupakan ajang perjuangan kepentingan negara-negara maju. Hal ini disebabkan karena realisme melihat bahwa politik internasional bersifat konfliktual, dimana setiap negara akan memperjuangkan kepentingan nasionalnya dengan mengerahkan seluruh power yang dimilikinya (Hans J. Morgenthau). Perspektif ini mempunyai pandangan yang pesimis terhadap kerja sama antar negara. Forum ini dianggap sebagai instrumen atau alat yang digunakan oleh negara maju untuk memenuhi kepentingan nasionalnya. Forum G8 dan G20 merupakan wadah bagi negara kuat, seperti Amerika Serikat, Prancis, dan lain sebagainya, untuk mengontrol negara-negara lemah. Menurut realisme, tujuan sebagai penengah kekuatan negara maju dan negara berkembang hanyalah merupakan retorika semata dan berbeda dengan kenyataan aslinya. Pada kenyataanya, forum ini lebih condong ke negara-negara maju, dan forum ini digunakan oleh negara-negara maju untuk mengawasi dan mengontrol negara-negara berkembang. Sehingga negara berkembang hanya berperan sebagai umpan dan tidak memperoleh banyak manfaat dari forum ini.

Kemudian menurut liberalisme, forum kerja sama G8 dan G20 memang diyakini sebagai solusi terbaik untuk menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi dunia. Perspektif liberalisme melihat bahwa kerja sama merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan segala masalah yang dihadapai oleh setiap negara dalam sistem internasional yang anarki. Perspektif ini melihat bahwa sistem internasional yang terjadi saat ini adalah sistem internasional yang anarki, dimana setiap negara saling memperjuangkan kepentingan nasionalnya tanpa adanya otoritas tertinggi yang menaungi. Oleh karena itu, untuk menjaga agar tidak terjadinya benturan kepentingan, maka dibutuhkan suatu lembaga yang dapat mengatur dan mengawasi interaksi antar negara. Dengan adanya lembaga ini maka segala macam tindakan negara dapat diatur dengan regulasi yang disepakati, sehingga perundingan atau kerja sama yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan optimal. Jadi dapat dikatakan bahwa liberalisme memiliki pandangan yang optimis terhadap kerja sama antar negara, sehingga perspektif ini melihat bahwa G8 dan G20 merupakan solusi yang tepat untuk menangani berbagai permasalahan ekonomi saat ini dan di masa mendatang.

Sedangkan menurut konstruktivisme, forum kerja sama G8 dan G20 merupakan salah satu bentuk konstruksi dari rezim internasional. Perspektif ini melihat bahwa untuk bisa menyelesaikan suatu krisis, maka dibutuhkan sharing idea dalam suatu sistem internasional. Forum G8 dan G20 merupakan wadah yang tepat untuk melakukan penyebaran ide, pengaruh, dan dukungan negara-negara di dunia. Sehingga forum ini bisa bermanfaat, namun bisa pula merugikan. Hal ini tergantung dari bagaimana forum ini diartikulasikan. Jika forum ini digunakan sebagai alat perjuangan kepentingan dari negara maju ke negara berkembang, maka forum ini tidak akan banyak memberikan manfaat terhadap permasalahan ekonomi dunia. Namun apabila forum ini digunakan sebagai rezim yang yang dapat mengatur negara-negara di dunia untuk mulai serius menangani permasalahan ekonomi dunia secara kolektif, maka forum ini bisa sangat bermanfaat. Jadi perspektif ini melihat dari bagaimana konstruksi ide mengenai tujuan dibentuknya forum ini direalisasikan dalam pelaksanaan praktisnya. Sehingga forum ini seharusnya dapat digunakan sebagai suatu rezim yang dapat menciptakan common identity dan sharing idea ke seluruh masyarakat dunia. Sehingga setiap negara dapat bekerja sama menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi yang dihadapi.

Forum G8 dan G20 memiliki latar belakang yang sama yaitu untuk menyelesaikan persoalan ekonomi. Kedua forum ini dibentuk setelah terjadinya krisis ekonomi yang mengancam dan mengganggu tatanan dunia. Jadi seharusnya kedua forum ini kembali ke tujuan awalnya, yaitu sebagai instrumen konsultasi dan kerja sama antar negara terhadap hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan moneter global. Sehingga forum ini tidak perlu membahas masalah lain yang tidak berhubungan dengan isu ekonomi. Karena forum G8 dan G20 dibentuk untuk mengkaji permasalahan ekonomi, maka forum ini harus bisa menjadi solusi bagi penyelesaian masalah tersebut. World Bank dan IMF belum cukup berhasil menunjukkan kontribusinya dalam penyelesaian sejumlah masalah ekonomi. Bahkan menurut beberapa pakar ekonomi, kedua lembaga tersebut tidak menyelesaikan masalah, namun menjadi bagian dari masalah, karena terlalu banyak tarik-menarik kepentingan di dalamnya. Sehingga G8 dan G20 harus mampu bersikap netral dan objektif, serta fokus terhadap solusi penyelesaian berbagai masalah ekonomi dunia.


Reza Tri Satria
Hubungan Internasional
UIN Syarif Hidayatullah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar